Perpaduan unsur bahasa Indonesia dan Inggris dalam komunikasi di media sosial semakin marak, terutama di kalangan generasi muda. Fenomena ini sering kali dianggap sebagai wujud gengsi sosial atau gaya berbahasa modern, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan krisis identitas bahasa nasional. Artikel ini menyajikan kajian pustaka terhadap studi-studi terdahulu mengenai campur kode Indonesia–Inggris di media sosial, mengupas motif sosial dan konsekuensinya. Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan campur kode banyak didorong oleh faktor sosial seperti ekspresi identitas kelompok dan faktor kemudahan atau kebutuhan leksikal, selain dipengaruhi oleh persepsi bahasa asing yang bernuansa prestise. Di sisi lain, dominasi campur kode berpotensi melemahkan rasa bangga berbahasa Indonesia dan mengikis fungsi Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional.
Copyrights © 2026