Penelitian ini membahas peranan kiai pesantren dalam menumbuhkan kesadaran nasionalisme umat Islam pada masa penjajahan, sebuah tema yang masih jarang dikaji dalam studi nasionalisme Indonesia. Pada periode kolonial Belanda dan Jepang, para kiai tidak hanya berfungsi sebagai pembimbing spiritual, tetapi juga sebagai pemimpin sosial yang menanamkan nilai patriotisme, kemandirian, serta semangat perlawanan melalui pendidikan, organisasi keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi. Kajian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi literatur, mencakup analisis buku, jurnal, dan sumber daring, kemudian data ditelaah melalui proses pengumpulan, reduksi, dan interpretasi menggunakan teori identitas sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tokoh seperti KH. Hasyim Asy‘ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah memainkan peran penting dalam membangun identitas kebangsaan religius melalui pengajaran jihad fisabilillah, pendirian organisasi antara lain Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Syubbanul Wathan serta penguatan ekonomi umat melalui Nahdlatut Tujjar. Tradisi dan kemandirian pesantren memungkinkan proses internalisasi nilai nasionalisme secara efektif kepada santri dan masyarakat luas. Penelitian ini menegaskan bahwa nasionalisme umat Islam pada masa kolonial berakar kuat pada ajaran agama dan budaya pesantren, serta berkontribusi besar terhadap perkembangan gerakan kemerdekaan Indonesia.
Copyrights © 2026