Krisis iklim global belakangan ini semakin menjadi isu penting dalam keberlanjutan hidup umat manusia dimuka bumi. Untuk menanggulangi hal itu, geoenginering muncul sebagai solusi yang dilakukan agar kehidupan manusia dimuka bumi bisa terus berlanjut. Namun, keberadaan geoengineering menimbulkan dilema etis yang cukup mendalam, apakah manusia berhak untuk mengubah dan memanipulasi alam dengan alasan untuk keberlanjutan hidup umat manusia? Untuk menjawab persoalan etis ini seorang filsuf bernama hans jonas memiliki gagasan berupa etika tanggung jawab sebagaimana yang ia tulis dan kembangkan dalam bukunya The Imperative of Responsibility (1984). Jonas menilai bahwa kekuasaan teknologi modern telah melampaui cakupan etika tradisional, sehingga dibutuhkan prinsip moral baru yang berorientasi pada kelangsungan kehidupan di masa depan. Hans jonas menjelaskan tentang 5 tahap analisis etis dalam mengidentifikasi kekuasaan teknologi, analisis dampak jangka panjang, penerapan heuristik ketakutan, pertimbangan intergenerasional dan non-antropocentris, serta rekomendasi normatif penelitian ini menegaskan bahwa geoengineering hanya dapat dianggap etis apabila sejalan dengan prinsip kehati-hatian dan tidak mengorbankan integritas ekologis bumi. Dari perspektif etika tanggung jawab dapat memberikan paradigma etika baru yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai penjaga kehidupan di planet ini.
Copyrights © 2026