Tafsir tekstual masih menjadi pendekatan dominan dalam studi Al-Qur’an, terutama karena klaimnya atas stabilitas dan finalitas makna. Namun, pendekatan ini kerap mengabaikan dimensi epistemologis dari proses penafsiran itu sendiri. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tafsir tekstual melalui perspektif hermeneutika dekonstruksi Jacques Derrida, dengan fokus pada kritik terhadap asumsi metafisis yang menopang klaim makna tunggal dalam tradisi tafsir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan library research, melalui analisis kritis terhadap literatur tafsir Al-Qur’an dan kajian hermeneutika kontemporer.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir tekstual tidak dapat dipahami semata-mata sebagai metode netral untuk merepresentasikan makna wahyu, melainkan sebagai konstruksi epistemologis yang dibentuk oleh konteks historis, otoritas penafsir, dan mekanisme legitimasi makna. Hermeneutika dekonstruksi memungkinkan pembacaan kritis terhadap struktur tafsir dengan menyingkap oposisi biner dan klaim finalitas makna yang selama ini diterima secara taken for granted. Artikel ini menegaskan bahwa dekonstruksi tidak diarahkan pada relativisasi wahyu atau penegasian kesakralan Al-Qur’an, tetapi berfungsi sebagai kritik epistemologis terhadap praktik penafsiran.Kebaruan artikel ini terletak pada pemanfaatan dekonstruksi bukan sebagai metode penafsiran alternatif, melainkan sebagai kritik internal terhadap tafsir tekstual. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi pada pengembangan metodologi studi Al-Qur’an kontemporer yang lebih reflektif, kritis, dan terbuka terhadap pluralitas makna.
Copyrights © 2025