Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, pengalaman, serta dampak praktik berdoa dan bersyukur terhadap kesehatan mental mahasiswa dalam konteks akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menemukan pola makna dan kategori tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memaknai doa sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan yang memberikan rasa aman, pengharapan, serta menjadi sarana coping ketika menghadapi tekanan akademik; sebagaimana diungkapkan partisipan “berdoa membuat hati lebih tenang dan menurunkan rasa cemas.” Sementara itu, rasa syukur dipahami sebagai bentuk refleksi diri dan apresiasi atas apa yang dimiliki, seperti pernyataan informan bahwa bersyukur berarti “menghargai apa yang sudah dimiliki.” Praktik berdoa dan bersyukur dilakukan terutama sebelum ujian, ketika menghadapi tugas sulit, dan saat mengalami tekanan emosional. Penelitian menyimpulkan bahwa doa dan rasa syukur berperan sebagai mekanisme spiritual coping dan self-regulation yang berdampak positif terhadap ketenangan emosional, optimisme, dan kesejahteraan mental mahasiswa. Dengan demikian, praktik ini memiliki potensi dikembangkan sebagai pendekatan pendukung kesehatan mental berbasis spiritual yang bersifat sukarela dan inklusif dalam lingkungan pendidikan tinggi.
Copyrights © 2025