Pasar tradisional merupakan ruang ekonomi sekaligus sosial yang merefleksikan interaksi antara negara dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekonomi lokal. Di Kota Bukittinggi, Pasar Tradisional Aur menghadapi tantangan berupa kepadatan pedagang, keterbatasan infrastruktur, dan lemahnya tata kelola. Penelitian ini mengkaji peran Dinas Perdagangan dan Perindustrian dalam pengelolaan serta pengorganisasian pasar melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berbasis teori collaborative governance dan partisipasi komunitas, studi ini menyoroti pentingnya sinergi antaraktor dalam menciptakan tata kelola pasar yang tertib, bersih, dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinas berperan penting dalam penataan infrastruktur, pembinaan pedagang, dan mediasi konflik, namun efektivitasnya terhambat oleh keterbatasan sumber daya dan lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Secara empiris, keberhasilan pengelolaan pasar bergantung pada kebijakan yang konsisten dan partisipasi aktif pedagang. Secara keilmuan, penelitian ini memperkaya kajian antropologi pembangunan dan kebijakan publik lokal dengan pendekatan maqashidus syariah menegaskan bahwa pasar tradisional bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan arena sosial yang membutuhkan tata kelola kolaboratif berbasis kepercayaan dan komunikasi. Temuan ini membuka ruang refleksi baru dalam studi ekonomi komunitas dan peran negara dalam transformasi ruang publik. Traditional markets represent not only economic institutions but also social spaces where interactions between the state and community construct the dynamics of local livelihoods. In Bukittinggi City, the Aur Traditional Market illustrates how overcrowding, limited infrastructure, and weak governance hinder the sustainability of community-based economies. This study examines the role of the Department of Trade and Industry in managing and organizing the market through a descriptive qualitative approach using interviews, observation, and documentation. The research adopts the theoretical lens of collaborative governance and community participation, emphasizing that effective market management requires the synergy of multiple actors to ensure order, cleanliness, and sustainability. The findings reveal that the department plays a crucial role in infrastructure improvement, trader development, and conflict mediation, yet its efforts are limited by human resource constraints and institutional fragmentation. Empirically, the effectiveness of market management depends on consistent local policies with maqashidus syariah and the active participation of traders as co-managers of the public space. Scientifically, this study contributes to the discourse of development anthropology and local governance by redefining traditional markets as socio-economic arenas that demand collaborative and trust-based governance. It also provides a reflective framework for understanding the relationship between the state and local communities in transforming traditional markets into inclusive urban spaces
Copyrights © 2025