Penelitian ini mengkaji penggunaan istilah betina dalam ruang publik digital, khususnya di platform X, yang tidak hanya menjadi ekspresi bahasa sehari-hari, tetapi juga instrumen ideologis untuk mereproduksi ketimpangan gender. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana kata betina digunakan, nilai ideologis apa yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana resistensi terhadap istilah tersebut muncul. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis feminis dengan data yang dikumpulkan secara purposif dari lima puluh unggahan di X pada periode Januari hingga Juni 2025. Hasil penelitian menunjukkan lima pola utama penggunaan kata betina, yaitu hinaan dan stigma, metafora hewan dan reduksi biologis, objektifikasi seksual dan moral, politisasi dan demonisasi, serta resistensi terhadap labelisasi. Mayoritas penggunaan istilah betina mengandung konotasi peyoratif yang mendisiplinkan perempuan melalui stigmatisasi intelektual, emosional, biologis, maupun moral, sementara resistensi muncul dalam jumlah terbatas. Kesimpulannya, kata betina berfungsi sebagai ideologeme patriarkis dalam wacana digital, mereproduksi relasi kuasa yang timpang, sekaligus membuka ruang negosiasi makna melalui praktik resistensi.
Copyrights © 2025