Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna verba yang digunakan dalam proses pembuatan batik Pekalongan. Setiap daerah di Nusantara memiliki ragam istilah dan penyebutan proses membatik yang berbeda, termasuk Pekalongan yang dikenal dengan leksikon khasnya. Keragaman istilah tersebut sering kali membuat masyarakat awam kurang memahami makna dari tiap leksikon proses pembuatan batik. Penelitian ini menggunakan teori Metabahasa Semantik Alami (MSA) untuk menjelaskan makna verba secara mendalam dan menghindari bias budaya dalam penafsiran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara dengan narasumber yang merupakan pelaku produksi batik di Pekalongan serta melalui pengamatan langsung di Museum Batik Pekalongan. Analisis dilakukan dengan teknik parafrase berdasarkan makna asali dalam kerangka MSA. Hasil penelitian menunjukkan adanya sejumlah verba yang merepresentasikan tahapan proses membatik, antara lain nglowong, ngiseni, mopok, ngelir, ngrentesi, nyumi’i, dan nyoga, yang masing-masing memiliki makna dan nuansa semantik tersendiri.
Copyrights © 2025