Pemerintah Arab Saudi baru-baru ini mewajibkan bagi siapapun yang ingin melaksanakan ibadah haji maupun umrah untuk melakukan perekaman biometric visa. Proses biometric visa sendiri merupakan semacam identifikasi dan pemeriksaan fisik bagi para jamaah. Namun demikian, masih banyak para jamaah yang belum memahami atau mengerti tentang biometric terutama pada jamaah lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk keterlibatan KBIH Al Muna, faktor pendukung dan penghambat keterlibatan tersebut, serta memberikan kontribusi praktis dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan kelancaran proses keberangkatan ibadah haji. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi, dan studi literature. Analisis data menggunakan teknik analisis tematik yang meliputi tahap transkripsi, familiarisasi data, pengkodean, pencarian, dan peninjauan tema, hingga pendefinisian tema yang jelas. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, KBIH Al Muna menunjukkan keterlibatan yang signifikan dan adaptif dalam memfasilitasi proses biometric visa haji tahun 2025 di Kantor Kementrian Agama Kota Semarang. Faktor pendukung utama adalah adanya SDM yang terlatih dan ketersediaan perangkat yang canggih. Sementara itu, faktor penghambat meliputi kendala teknis seperti jaringan yang tidak stabil, masalah deteksi sidik jari pada jamaah lansia, gangguan server dan perangkat yang mengalami overheating, sehingga terkadang mengharuskan jamaah meminta surat rujukan medis ke rumah sakit. Secara keseluruhan, upaya KBIH Al Muna telah berhasil mendukung kelancaran proses biometric visa haji, yang mana menunjukkan adaptasi, profesionalisme, dan komitmen terhadap pelayanan jamaah, serta berkontribusi signifikan pada kualitas layanan haji di Kota Semarang.
Copyrights © 2025