Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peran indikator non-keuangan (tata kelola perusahaan, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah/dollar Amerika, dan tingkat suku bunga) dalam memprediksi hasil imbal saham perusahaan indeks LQ45 tahun 2022-2024. Dengan menggunakan teknik purposif sampling diperoleh 31 perusahaan sampel dengan jumlah observasi sebanyak 93. Hasil analisis menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan sebagai indikator internal perusahaan tidak memiliki peran signifikan dalam memprediksi imbal hasil saham. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika memiliki peran signifikan positif terhadap imbal hasil saham yang menyatakan bahwa pada saat rupiah terdepresiasi imbal hasil saham perusahaan LQ45 meningkat. Hal ini seperti tidak lazim terjadi, namun dapat dimengerti bahwa ada banyak perusahaan LQ45 yang memiliki penghasilan berbasis dollar Amerika sehingga pada saat dikonversi ke rupiah hasilnya meningkat besar sedangkan biaya produksi seperti gaji karyawan dan bahan baku lokal dalam rupiah. Pada periode 2022-2024 juga ada beberapa bank besar yang masuk pada indeks LQ45 memperoleh peningkatan laba. Dengan demikian maka berinvestasi pada perusahaan indeks LQ45 menarik investor yang kemudian meningkatkan harga saham yang berdampak pada kenaikan imbal hasil saham. Selanjutnya, hasil temuan pada penelitian ini menyatakan bahwa tingkat suku bunga dapat memprediksi imbal hasil saham secara signifikan negatif yang menyatakan bahwa apabila tingkat suku bunga naik akan berdampak pada turunnya imbal hasil saham. Temuan ini dapat dimengerti harena perusahaan yang masuk indeks LQ45 merupakan perusahaan berskala besar dengan pendanaan besar dari pinjaman sehingga dengan adanya kenaikan tingkat suku bunga merupakan beban biaya yang besar bagi perusahaan yang menurunkan laba, sehingga investor akan menarik sahamnya untuk mencari investasi yang lebih aman, dengan demikian maka terjadi penurunan harga saham yang berdampak pada penurunan imbal hasil saham indeks LQ45.
Copyrights © 2026