UMKM kerupuk rambak merupakan salah satu UMKM yang terkenal di Desa Pecangakan. Namun, fluktuasi permintaan yang tidak menentu, yang dikenal dengan fenomena bullwhip effect, seringkali terjadi. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan peramalan permintaan yang tepat agar dapat membantu UMKM untuk mengurangi dampak bullwhip effect yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur bullwhip effect yang terjadi pada produksi kerupuk rambak dan untuk mengetahui bagaimana peramalan dapat digunakan untuk mengurangi dampak dari bullwhip effect tersebut. Data yang diperoleh adalah data permintaan dan penjualan kerupuk rambak selama 12 minggu. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sebelum peramalan, produk kerupuk rambak "Rizki" mengalami bullwhip effect dengan nilai 1,03. Untuk mengurangi bullwhip effect, dilakukan peramalan menggunakan metode moving average dengan periode 2 minggu dan 3 minggu. Setelah membandingkan kedua metode, metode moving average periode 3 minggu terbukti lebih efektif dengan nilai kesalahan yang lebih kecil, yaitu MAD = 778, MSE = 839457, dan MAPE = 19%, dibandingkan dengan periode 2 minggu. Setelah diterapkan, peramalan periode 3 minggu berhasil menurunkan nilai bullwhip effect menjadi 0,60. Dengan demikian, metode moving average periode 3 minggu terbukti efektif dalam mengurangi bullwhip effect pada produksi kerupuk rambak.
Copyrights © 2025