Isu terkait gender merupakan pembahasan yang tidak pernah ada habisnya dikarenakan berakar pada permasalahan konstruksi sosial dan budaya masyarakat, sehingga rentan akan ketidaksetaraan dan perbedaan sudut pandang atau yang lebih dikenal sebagai framing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan framing terkait isu gender, khususnya terkait representasi pakaian perempuan yang merujuk pada kekerasan seksual dalam ruang digital. Fokus utama penelitian adalah konten Instagram Live pada akun @poppyrahardjo yang melibatkan dialog antara Poppy Raharjo (aktivis) dan Dion (kreator konten) dalam video berjudul “Baju Terbuka = Jualan?”. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori Analisis Framing Robert Entman yang membedah teks ke dalam empat dimensi: define problems (pendefinisian masalah), diagnose causes (diagnosis penyebab), make moral judgments (penilaian moral), dan treatment recommendation (rekomendasi penanggulangan). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bingkai yang signifikan. Dion menggunakan bingkai konservatisme moral yang mengaitkan pakaian terbuka dengan penurunan nilai moral dan pencarian validasi. Sebaliknya, Poppy Raharjo membangun bingkai keadilan gender yang mendekonstruksi mitos victim blaming dengan menyodorkan data empiris dan menekankan otonomi tubuh serta kontrol pelaku sebagai akar masalah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan komunikasi empati dan nalar kritis dalam komunikasi interpersonal termediasi mampu menegosiasikan framing yang kaku, serta efektif dalam menggeser atribusi kesalahan dari korban kepada tanggung jawab pelaku dan masyarakat.
Copyrights © 2026