Malaria masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dengan tren peningkatan kasus hingga 443.530 pada tahun 2022 serta adanya tantangan resistensi terhadap obat antimalaria yang ada. Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai produsen pisang terbesar ketiga di dunia menawarkan sumber daya alam melimpah yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk penemuan obat baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi senyawa fitokimia dari buah dan kulit pisang (Musa paradisiaca) sebagai inhibitor enzim Plasmodium falciparum dihydroorotate dehydrogenase (PfDHODH) melalui pendekatan in silico. Metode penelitian meliputi penapisan ligan, simulasi molecular docking menggunakan Molegro Virtual Docker, serta prediksi farmakokinetik ADMET. Temuan utama menunjukkan bahwa senyawa Amaroswerin memiliki afinitas pengikatan terkuat dengan skor MolDock -173.992, melampaui ligan kontrol Artemisinin (-101.108) berkat interaksi hidrofobik yang stabil. Meskipun Amaroswerin menunjukkan profil keamanan yang sangat baik tanpa sifat mutagenik atau toksisitas organ, analisis memprediksi tingkat absorpsi intestinal yang rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Amaroswerin adalah kandidat senyawa antimalaria yang sangat menjanjikan, namun memerlukan pengembangan strategi formulasi farmasi lebih lanjut untuk mengatasi keterbatasan bioavailabilitasnya di masa depan.
Copyrights © 2025