Berangkat dari fenomena tingginya angka antrian operasi elektif dan panjangnya waktu tunggu operasi 1 bulan serta angka penundaan dan pembatalan operasi elektif di RSCM masing-masing mencapai 11,55% dan 5%, melebihi standar mutu nasional. Program Layanan Operasi 4.0, yang mulai diterapkan sejak Januari 2024, merupakan inovasi manajerial untuk meningkatkan utilisasi kamar operasi hingga empat operasi per hari tanpa pembatalan (four operations, zero cancellation) melalui digitalisasi sistem penjadwalan, sentralisasi koordinasi, dan optimalisasi sumber daya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan manajemen dan tenaga medis, observasi lapangan di Instalasi Pelayanan Bedah Terpadu, serta analisis dokumen kebijakan internal rumah sakit. Validitas data diuji melalui triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program membawa perubahan positif terhadap efisiensi tata kelola operasi dan transparansi penjadwalan, namun efektivitasnya dalam menurunkan jumlah antrian operasi elektif belum optimal. Hambatan utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, kapasitas ruang operasi, kesiapan infrastruktur digital, serta resistensi terhadap perubahan sistem kerja. Di sisi lain, sentralisasi penjadwalan dan sistem digital dinilai meningkatkan koordinasi antarunit dan pengawasan pelaksanaan operasi. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa Program Layanan Operasi 4.0 merupakan langkah inovatif menuju efisiensi layanan bedah, namun keberhasilannya bergantung pada penguatan aspek manajerial, peningkatan kapasitas SDM, dan pengawasan berkelanjutan terhadap kinerja sistem. Penelitian ini merekomendasikan perlunya strategi adaptif yang menyeimbangkan tuntutan produktivitas dengan keselamatan pasien serta kelayakan operasional rumah sakit.
Copyrights © 2026