Tingginya antusiasme masyarakat Bandung terhadap kesenian, yang tercermin daripertumbuhan sanggar dan komunitas seni lokal, belum diimbangi dengan ketersediaanfasilitas teater yang memadai untuk menunjang kegiatan pertunjukan secara optimal.Menjawab tantangan tersebut, perancangan teater baru yang modern, fungsional, dansesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat menjadi sangat penting. Perancangan inimengadopsi pendekatan Human-Center Design (HCD), yang menempatkan manusia sebagaipusat dari proses desain. Melalui tahapan empati, perumusan masalah, ideasi, pembuatanprototipe, dan pengujian, pendekatan ini menggali secara mendalam pengalaman sertakebutuhan pengguna utama, seperti seniman, penonton, dan pengelola. Hasil desain yangdihasilkan tidak hanya memenuhi fungsi teknis dan estetika, tetapi juga menciptakan ruangyang inklusif, nyaman, dan berkelanjutan. Pendekatan HCD juga memastikan bahwarancangan ini selaras dengan konteks sosial dan budaya lokal Bandung, khususnya dalammemanfaatkan potensi kawasan Kiaracondong sebagai pusat seni yang dinamis danpartisipatif. Dengan demikian, teater ini diharapkan dapat menjadi ruang budaya yanghidup dan membina hubungan yang erat antara masyarakat dan kesenian, serta mendorongperkembangan ekosistem seni yang lebih luas dan berkelanjutan di Kota Bandung.Kata kunci: Aktivitas, Fasilitas teater, Fungsional, Human-centered design, Peraturanpemerintah, Seni pertunjukan
Copyrights © 2025