Gereja Katolik masa kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah,tetapi juga sebagai ruang komunitas yang memenuhi kebutuhan rohani dan jasmaniumatnya. Hal ini menjadi penting bagi Gereja Santa Theresia Jambi yang melayanilebih dari 7.000 umat, sementara kapasitas bangunannya hanya menampung 750orang. Pertumbuhan jumlah umat, meningkatnya aktivitas kategorial, serta buruknyakualitas akustik menunjukkan perlunya dilakukan perancangan ulang gereja.Renovasi gereja tidak hanya ditujukan untuk perbaikan fisik dan kapasitas, tetapi jugasebagai upaya memperkuat citra dan Gereja melalui kearifan lokal. Konteks kearifanlokal Jambi memiliki keterkaitan erat dengan kearifan lokal Jawa, yang tercermin darisejarah, bahasa, kesenian batik, hingga situs Candi Muaro Jambi. Hal ini turutmemengaruhi desain awal Gereja Santa Theresia Jambi yang banyak mengadopsiunsur kearifan lokal Jawa. Namun, seiring pertumbuhan umat lokal Jambi, munculkebutuhan untuk merancang ulang Gereja dengan pendekatan yang sesuai arahanKonsili Vatikan II, pendekatan kearifan lokal, yang diperbolehkan selama tidakbertentangan dengan nilai iman Katolik. Perancangan ulang dilakukan dengan tetapmempertahankan kearifan lokal Jawa yang sudah melekat, sekaligus menghadirkanelemen kearifan lokal Jambi secara harmonis.Kata kunci: Gereja Katolik, kearifan lokal, Jambi, Jawa
Copyrights © 2025