Mahasiswa Muslim yang menempuh studi di lingkungan minoritas seringkali menghadapi hambatan dalam menjalankan ibadah kolektif. Penelitian ini mengeksplorasi problematika akses ibadah Jumat di St. John’s University (SJU) Taiwan dan upaya pemecahannya melalui metode Participatory Action Research (PAR). Fokus utama program ini adalah mengatasi "keterbelengguan spiritual" akibat jarak tempuh ke masjid yang jauh dan ketiadaan fasilitas ibadah di kampus. Melalui sinergi penyelenggaraan Sholat Jumat mandiri dan program filantropi "Jumat Berkah", penelitian ini berhasil membangun ekosistem kampus yang lebih inklusif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri mahasiswa Muslim, penguatan solidaritas lintas bangsa, serta terciptanya ruang diplomasi budaya dengan sivitas akademika non-Muslim melalui pembagian makanan.
Copyrights © 2026