Penelitian ini membahas ketahanan budaya (cultural resilience) tradisi methik pari di Dukuh Kebon, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, dalam menghadapi arus modernisasi. Tradisi ini merupakan warisan budaya agraris masyarakat Jawa yang sarat dengan nilai spiritual, simbolik, dan sosial. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji makna serta pelaksanaan tradisi methik pari, menganalisis tantangan yang dihadapi dalam mempertahankannya, serta mengidentifikasi upaya pelestarian di tengah perubahan zaman. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, petani, dan masyarakat, serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi methik pari masih dipraktikkan sebagai bentuk rasa syukur, sedekah, dan permohonan keselamatan dengan prosesi yang sarat makna simbolik. Namun, modernisasi, perubahan pola tanam dan teknologi, pergeseran pola pikir generasi muda, serta minimnya regenerasi pelaku adat menyebabkan terjadinya pergeseran makna dan pelaksanaan tradisi yang kini cenderung bersifat individual. Meskipun demikian, tradisi ini tetap bertahan berkat peran aktif sesepuh dan petani tradisional. Upaya pelestarian melalui sinergi masyarakat, pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan dinas terkait menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai identitas budaya lokal masyarakat agraris Jawa di tengah dinamika modernisasi.
Copyrights © 2026