Whistleblowing merupakan mekanisme penting dalam memperkuat tata kelola organisasi dan mendorong perilaku etis, namun masih terdapat perbedaan temuan mengenai efektivitas sistem reward dalam mendorong perilaku tersebut. Selain faktor struktural, kondisi psikologis karyawan, khususnya mood positif, diduga berperan dalam proses pengambilan keputusan etis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh reward terhadap perilaku whistleblowing serta peran mood positif dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap auditor yang bekerja pada kantor akuntan publik. Sampel penelitian terdiri dari 73 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reward berpengaruh positif dan signifikan terhadap mood positif, namun tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap perilaku whistleblowing. Selain itu, mood positif juga tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap perilaku whistleblowing sehingga tidak mampu memediasi hubungan antara reward dan whistleblowing. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan reward dan kondisi emosional positif belum tentu secara langsung mendorong perilaku pelaporan pelanggaran. Implikasi penelitian menunjukkan pentingnya penguatan mekanisme pelaporan, perlindungan pelapor, serta pembentukan budaya etis organisasi guna meningkatkan efektivitas sistem whistleblowing.
Copyrights © 2025