Tingginya tingkat gangguan mental emosional pada remaja di Indonesia (Riskedas 2018) dan keterbatasan akses terhadap layanan konseling menciptakan urgensi untuk mengalihkan fokus intervensi ke lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Hal ini, didorong oleh adanya kesenjangan antara fungsi ideal komunikasi keluarga sebagai faktor protektif dengan realitas kegagalan komunikasi yang dapat menjadi faktor risiko buruk. Penelitian tinjauan literatur ini bertujuan menganalisis bentuk lima artikel kunci yang relevan, disaring dari 200 publikasi Google Scholar (2020-2025) menggunakan kata kunci terkait komunikasi, kesehatan mental, dan pola asuh keluarga. Hasil utama menunjukkan bahwa kualitas komunikasi jauh lebih penting daripada kualitas interaksi. Pola komunikasi yang terbuka, hangat, dan penerapan “komunikasi Hati” (jujur dan empati) terbukti secara signifikan mendukung kesejahteraan psikologis da berfungsi sebagai benteng pertahanan. Sebaliknya, komunikasi yang tidak efektif dan ketidakharmonisan keluarga meningkatkan risiko depresi, bahkan memprediksi masalah mental hingga dua puluh tahun kemudian. Disimpulkan bahwa komunikasi yang suportif berperan sebagai variabel perantara utama dalam membentuk ketahanan mental, sehingga intervensi keluarga menjadi mendesak untuk memperkuat mental remaja.
Copyrights © 2025