Curah hujan merupakan indikator iklim yang sangat penting, memainkan peran vital dalam pengelolaan sumber daya air, perencanaan pertanian, dan mitigasi dampak bencana hidrologi dan iklim seperti banjir dan kekeringan. Variasi spasial dan temporal curah hujan dipengaruhi oleh geografi regional, topografi, dan dinamika atmosfer. Karena fluktuasi dan nilai ekstrem dalam data curah hujan, data tersebut seringkali menyimpang dari distribusi normal yang diasumsikan, sehingga memerlukan penggunaan metode statistik yang tepat untuk analisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variasi curah hujan di antara stasiun pemantauan di Manganti, Bolon, dan Simpong menggunakan metode statistik non-parametrik. Pendekatan deskriptif kuantitatif digunakan, dengan mengandalkan data curah hujan sekunder dari ketiga stasiun tersebut. Analisis data meliputi analisis statistik deskriptif untuk mengkarakterisasi data curah hujan, pengujian normalitas menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk, dan uji Kruskal-Wallis untuk memeriksa variasi curah hujan di antara stasiun-stasiun tersebut. Pengujian normalitas menunjukkan bahwa data curah hujan tidak mengikuti distribusi normal, sehingga metode statistik parametrik tidak sesuai. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam curah hujan di antara ketiga stasiun pemantauan. Hal ini menunjukkan bahwa pola curah hujan di daerah penelitian relatif homogen, kemungkinan karena kesamaan geografi, topografi, dan iklim. Studi ini menunjukkan bahwa uji Kruskal-Wallis dapat digunakan secara efektif sebagai metode alternatif untuk menganalisis data curah hujan yang tidak sesuai dengan asumsi normalitas.
Copyrights © 2026