Perkembangan teknologi digital telah memicu peningkatan intensitas dalam mendengarkan musik terutama pada kalangan mahasiswa. Hal itu menjadikan musik tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi diri dan membentuk cara pandang mereka terhadap kehidupan. Mahasiswa di Yogyakarta, sebagai bagian dari generasi muda yang berada pada fase pencarian jati diri dan rentan mengalami quarter-life crisis, kerap memanfatkan musik untuk mengelola emosi, membangun identitas, serta menafsirkan makna hidup. Penelitian ini secara empiris bertujuan untuk menguji pengaruh dari intensitas mendengarkan musik terhadap perspektif kehidupan mahasiswa di Yogyakarta. Penelitian ini didasari paradigma positivistik dengan metode kuantitatif. Variabel intensitas mendengarkan musik diukur berdasarkan dimensi identitas diri, hubungan personal, dan diversi. Sedangkan perspektif kehidupan diukur berdasarkan dimensi autonomy, competence, dan relatedness berdasarkan teori Self-Determination. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian komunikasi dan psikologi musik, serta manfaat oraktis bagi mahasiswa dan institusi pendidikan dalam memahami peran musik terhadap pembentukan pandangan hidup.
Copyrights © 2026