Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi guru dan siswa di kelas X SMA Banyuwangi terhadap penggunaan Mikroskop Virtual (MV) dan Simulasi Biologi (misalnya, simulasi pewarisan sifat) sebagai alat bantu pembelajaran. Penggunaan teknologi digital diharapkan dapat mengatasi kendala fasilitas laboratorium dan meningkatkan pemahaman konsep abstrak Biologi. Penelitian ini menggunakan desain Studi Kasus Kualitatif Intrinsik dengan melibatkan 3 Guru Biologi dan 25 Siswa Kelas X IPA dari dua SMA di Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui Wawancara Mendalam Semi-Terstruktur, Observasi Kelas, dan Jurnal Refleksi guru dan siswa setelah sesi intervensi menggunakan teknologi MV/Simulasi. Hasil penelitian menunjukkan persepsi positif yang kuat dari kedua belah pihak terhadap aspek Visualisasi Konsep Abstrak dan Fleksibilitas Akses (belajar tanpa lab). Namun, teridentifikasi adanya hambatan, yaitu (1) Perceived Cognitive Load: Guru menilai siswa mengalami beban kognitif tinggi saat beralih antara simulasi dan konsep buku; dan (2) Digital Native Paradox: Siswa cepat beradaptasi, tetapi cenderung memperlakukan simulasi sebagai video game tanpa melakukan analisis data mendalam. Studi menyimpulkan bahwa efektivitas teknologi MV/Simulasi sangat bergantung pada kemampuan Guru Biologi untuk mengintegrasikannya sebagai alat inkuiri terstruktur, bukan hanya sebagai pengganti alat fisik atau sumber hiburan.
Copyrights © 2025