Tuberkulosis resisten obat (TB RO) merupakan salah satu tantangan terbesar dalam upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia, khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Pengobatan TB RO memerlukan durasi yang panjang, kombinasi obat dengan efek samping berat, serta kepatuhan pasien yang tinggi. Namun, tingkat putus berobat (loss to follow up) pada pasien TB RO masih tinggi dan menjadi hambatan serius dalam keberhasilan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TB RO di UPTD RS Khusus Paru Provinsi Sumatera Utara selama periode 2021–2024. Penelitian ini menggunakan desain studi observasional analitik dengan pendekatan case control, melibatkan dua kelompok responden, yaitu pasien yang putus berobat dan pasien yang menyelesaikan pengobatan. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) dan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian putus berobat sebesar 28,9%. Faktor-faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian putus berobat adalah usia, pendidikan, status pekerjaan, riwayat diabetes mellitus dan kategori panduan OAT. Sementara itu, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, dan wilayah fasyankes tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil ini menegaskan pentingnya strategi pemantauan dan intervensi yang lebih intensif terhadap kelompok pasien berisiko tinggi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan TB RO.
Copyrights © 2025