Stunting merupakan masalah gizi kronis yang mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Data Pelayanan Kesehatan tahun 2021 mencatat bahwa sebanyak 25.733 anak di Kabupaten Aceh Tenggara tergolong dalam kategori berisiko mengalami stunting, sedangkan 4.743 anak lainnya tidak termasuk dalam kelompok risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 12–59 bulan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutambaru Kutacane. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross sectional study. Populasi penelitian mencakup 1.139 ibu yang memiliki balita, dan sampel berjumlah 92 responden dipilih secara simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner serta pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting (p < 0,05) pada empat indikator: praktik pemberian makan (p = 0,000), rangsangan psikososial (p = 0,025), pemanfaatan pelayanan kesehatan (p = 0,005), serta hygiene dan sanitasi lingkungan (p = 0,019). Balita dengan pola asuh kurang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dibandingkan kategori baik. Meski demikian, stunting tetap ditemukan pada balita dengan pola asuh baik, diduga akibat faktor lain seperti infeksi berulang, berat lahir rendah, dan kondisi sosial ekonomi. Sebaliknya, terdapat balita tidak stunting pada kategori pola asuh kurang atau cukup, kemungkinan karena faktor protektif seperti ASI eksklusif, imunisasi lengkap, dan ketersediaan pangan bergizi. Sehingga, pola asuh ibu terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian stunting.
Copyrights © 2025