Proyek konstruksi memiliki keterkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) melalui penerapan konstruksi berkelanjutan yang menekankan efisiensi sumber daya, termasuk material sebagai komponen biaya terbesar. Material konstruksi menyumbang sekitar 60–80% dari total biaya proyek, sehingga perubahan harga material menjadi faktor krusial yang dapat memicu pembengkakan biaya dan mengganggu keberlanjutan pelaksanaan proyek. Salah satu penyebab meningkatnya biaya material adalah ketidaktepatan dalam estimasi dan perencanaan anggaran, terutama ketika terjadi fluktuasi harga yang dipengaruhi kondisi pasar dan rantai pasok. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan faktor-faktor yang paling mempengaruhi fluktuasi harga material konstruksi, khususnya pada proyek di wilayah Bali Timur yang memiliki tantangan geografis dan logistik tersendiri. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk memperoleh bobot prioritas berdasarkan penilaian para praktisi konstruksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh faktor utama penyebab fluktuasi harga material adalah persediaan material (19,2%), permintaan pasar (15,2%), perubahan harga BBM (15,1%), lokasi proyek (14,7%), kebijakan pemerintah (12,9%), inflasi (12,7%), dan biaya produksi (10,1%). Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan dasar pertimbangan strategis bagi kontraktor dan pemangku kebijakan untuk merumuskan strategi pengendalian biaya dan meningkatkan resiliensi rantai pasok material di Bali Timur.
Copyrights © 2025