Kajian tentang kegilaan telah lama dibentuk oleh kekuatan sosial, budaya, dan sejarah, menjadikannya subjek yang kompleks dalam memahami perilaku manusia dan norma norma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis wacana kegilaan dalam Madness and Civilization karya Michel Foucault, dengan fokus pada hubungan antara bahasa, pengetahuan, dan kekuasaan, serta ideologi ideologi tersembunyi yang tertanam dalam konstruksi historis kegilaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggabungkan Analisis Wacana Kritis dengan analisis semiotik untuk mengkaji data primer dari teks Foucault dan sumber sumber akademis sekunder. Analisis dilakukan dalam tiga tahap: deskripsi, interpretasi, dan penjelasan, dengan mengidentifikasi istilah istilah kunci, struktur naratif, dan representasi simbolis yang mengungkapkan bagaimana kegilaan secara historis dikategorikan, dilembagakan, dan dikendalikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana kegilaan bukan sekadar fenomena medis atau psikologis, melainkan konstruksi sosial yang dibentuk oleh relasi kuasa, di mana institusi, bahasa, dan pengetahuan berkolaborasi untuk menormalkan perilaku dan mendefinisikan siapa yang dianggap "waras" atau "gila". Konsep konsep seperti "penahanan", "akal sehat", dan "institusi" berfungsi sebagai tanda tanda ideologis yang menopang kontrol sosial dan mencerminkan konteks historis dan epistemologis yang lebih luas. Temuan ini juga menekankan pentingnya penelitian ini, karena narasi kesehatan mental kontemporer dan praktik kelembagaan masih mereproduksi pola pola historis eksklusi dan normalisasi, yang menunjukkan relevansi berkelanjutan wacana Foucault dalam mengevaluasi kebijakan kesehatan mental saat ini, stigmatisasi, dan persepsi publik. Berdasarkan wawasan ini, penelitian di masa mendatang direkomendasikan untuk mengeksplorasi aplikasi empiris wacana Foucault dalam institusi kesehatan mental modern dan konteks lintas budaya, yang dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana kekuasaan, pengetahuan, dan bahasa terus membentuk realitas sosial kewarasan dan kegilaan.
Copyrights © 2025