Artikel ini mengkaji peran sekolah sebagai ruang hegemoni ideologis menurut perspektif Antonio Gramsci. Penelitian ini menjelaskan bagaimana sekolah, melalui berbagai elemen seperti kurikulum, budaya, dan sistem evaluasi, memperkuat ideologi dominan yang mendorong nilai-nilai seperti meritokrasi, individualisme, dan kompetisi. Dalam pandangan Gramsci, pendidikan bukan hanya sekadar sarana transfer pengetahuan, melainkan juga alat untuk menyebarkan ideologi yang mempertahankan status quo, di mana ketidaksetaraan dan struktur kekuasaan tertentu sering dianggap "alami" dan sulit dipertanyakan. Meskipun demikian, meski berada dalam kerangka hegemoni ideologis, sekolah memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan. Dengan menerapkan pendekatan yang lebih inklusif dan reflektif, serta memperkuat peran guru sebagai intelektual organik, sekolah dapat berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan kesadaran kritis dan menentang hegemoni yang ada. Oleh karena itu, pendidikan memiliki kapasitas untuk mendorong transformasi sosial yang lebih adil dan menjadi alat untuk membangun blok historis yang lebih egaliter. Artikel ini menekankan pentingnya pendekatan pedagogik yang dapat mendukung perlawanan terhadap hegemoni ideologis dalam sistem pendidikan.
Copyrights © 2026