Anak penyandang disabilitas merupakan kelompok rentan yang sering menghadapi stigma sosial. Permasalahan utama adalah kurangnya pemahaman rinci mengenai bentuk-bentuk spesifik stigma yang menghambat intervensi efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bentuk-bentuk stigma yang dialami oleh anak penyandang disabilitas di Kecamatan Rappocini, Makassar, berdasarkan pengalaman nyata mereka. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dengan tujuh keluarga. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak mengalami berbagai bentuk stigma yang kompleks, meliputi pelabelan verbal yang merendahkan (misalnya, "cacat", "orang gila"), pengucilan sosial oleh teman sebaya, serta diskriminasi yang berwujud kekerasan verbal, fisik, dan simbolik. Stigma ditemukan tidak hanya berasal dari masyarakat tetapi juga dari lingkungan keluarga. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi adanya strategi perlawanan aktif dari anak dan tindakan advokasi oleh orang tua sebagai upaya mengelola identitas sosial dan mempertahankan martabat.
Copyrights © 2026