Mata air panas Cisarua di Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan, merupakan manifestasi panas bumi yang terletak jauh dari zona vulkanik aktif, sehingga memerlukan penelitian untuk memahami mekanisme kemunculannya. Daerah ini tersusun atas endapan vulkanik muda, Formasi Lampung, dan batuan malihan, serta dilalui patahan berarah barat laut–tenggara sebagai bagian dari Sesar Lampung Panjang. Penelitian ini bertujuan mendeteksi jalur aliran fluida panas bumi melalui kombinasi metode Geolistrik 2D dan Very Low Frequency Electromagnetic (VLF-EM). Pengukuran dilakukan pada dua lintasan terintegrasi, sepanjang 350 m dan 470 m. Data VLF-EM diolah menggunakan filter NA- MEMD, Fraser, dan Karous-Hjelt serta inversi 2D. Hasilnya menunjukkan anomali resistif vertikal (≤100 Ωm) dan anomali resistif dangkal (≤60 Ωm) yang diduga jalur fluida. Tiga lapisan utama teridentifikasi: top soil (>80 Ωm), lempung tufan (0–20 Ωm), dan lempung pasiran (20–70 Ωm). Pada lintasan pertama terindikasi tiga zona sesar, salah satunya sesuai dengan penelitian sebelumnya yang diperkirakan sebagai jalur air panas dengan arah barat laut–tenggara . Lintasan kedua tidak menunjukkan sesar karena tidak adanya kontras anomali resistivitas dan tidak didukung oleh data sekunder atau penelitian yang lain. Kedua metode menunjukkan pola resistivitas yang selaras, sehingga efektif digunakan untuk studi pendahuluan panas bumi.
Copyrights © 2026