Keraton Solo merupakan salah satu kerajaan Islam yang masih berjaya hingga saat ini. Sebagai kerajaan yang bernafaskan Islam, Keraton Solo memiliki penghulu atau abdi dalem yang berperan sebagai pemangku persoalan agama dan penyebaran Islam di lingkungan keraton. Ulama keraton yang bergelar Tafsir Anom telah ada sejak masa Pakubowono pertama dan tetap memegang peran penting dalam kegiatan keislaman keraton hingga kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ulama keraton dalam kegiatan keislaman Keraton Solo dan mengapa peran tersebut masih dibutuhkan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama keraton berperan dalam berbagai kegiatan keislaman seperti Grebeg Maulud, Grebeg Suro, Grebeg Besar, pengajian rutin, serta upacara kematian, pernikahan, dan penyerahan zakat. Dalam pelaksanaannya, ulama keraton tetap berpegang pada prinsip “Jana Jawa tanpa Islam, Jana Islam tanpa Jawa” yang tercantum dalam Serat Wulang Reh, yang menekankan harmonisasi antara Islam dan budaya Jawa. Meskipun terjadi pergeseran peran seiring perubahan sistem pemerintahan, ulama keraton tetap menjadi figur yang esensial dalam menjaga tradisi dan identitas keislaman keraton. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa peran ulama keraton masih sangat relevan dalam kegiatan keislaman Keraton Solo, baik sebagai penasihat spiritual, pelaksana ritual, maupun penjaga kearifan lokal yang menyinergikan nilai Islam dan budaya Jawa. Eksposur terhadap peran ulama keraton penting untuk dilestarikan agar generasi penerus tetap memahami sejarah dan kontribusi Islam dalam konteks kebudayaan keraton.
Copyrights © 2025