Penelitian ini mengkaji perjumpaan antara teologi Injili dan spiritualitas masyarakat Dayak di Jemaat GEKISIA Kecamatan Jelai Hulu, Kalimantan Barat. Masyarakat Dayak di wilayah ini dikenal memiliki sistem kepercayaan yang kuat terhadap Duataq, roh leluhur yang dipandang sebagai kekuatan ilahi pengatur keseimbangan hidup. Meskipun banyak masyarakat telah memeluk agama Kristen atau Katolik, praktik ritual adat seperti jamban titiq masih dijalankan, menunjukkan adanya sinkretisme antara iman Kristen dan spiritualitas lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma teologi Injili kontekstual untuk menganalisis ketegangan teologis yang muncul di antara kedua sistem kepercayaan tersebut. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur terhadap sumber-sumber teologi dan antropologi Dayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi Injili, dengan empat pilar utama Bebbington—Biblicism, Conversionism, Crucicentrism, dan Activism—menawarkan kerangka transformasi spiritual yang mampu menegaskan supremasi Kristus atas setiap kekuatan spiritual tanpa meniadakan nilai-nilai budaya Dayak yang positif. Proses kontekstualisasi Injil yang kritis dan menebus menjadi kunci untuk menghadirkan iman yang murni namun berakar dalam konteks budaya lokal. Dengan demikian, Injil tidak hanya menjadi ajaran baru, tetapi kuasa Allah yang memperbarui seluruh dimensi kehidupan masyarakat Dayak di Jelai Hulu.
Copyrights © 2025