Latar belakang: Persaingan bisnis makin cepat dan sulit diprediksi. Digitalisasi menekan cara kerja lama, konsumsi pasca pandemi bergeser ke kanal online, dan tuntutan keberlanjutan menguat lewat regulasi, standar rantai pasok, serta preferensi konsumen. Strategi lama yang fokus efisiensi biaya dan distribusi mapan makin kurang efektif. Organisasi perlu strategi lincah, responsif, dan relevan. Inovasi harus jadi inti keputusan harian, bukan proyek sesekali Metode penelitian: Studi ini memakai Systematic Literature Review dengan pedoman PRISMA 2020 untuk menata proses identifikasi, seleksi, dan sintesis literatur secara transparan. Penelusuran dilakukan pada basis data ilmiah utama dan sumber relevan dengan rentang publikasi 2020–2025. Kajian menilai hubungan strategi inovasi, transformasi digital, agenda ESG, dan market performance. Sintesis dilakukan secara tematik untuk menemukan pola, mekanisme pengaruh, serta faktor penguat yang berulang. Hasil penelitian: Literatur menunjukkan strategi bersaing berbasis inovasi meningkatkan market performance, terutama saat inovasi produk dan proses tepat menjawab kebutuhan pelanggan dan cepat dikomersialisasi. Transformasi digital memendekkan siklus inovasi melalui data pelanggan, otomasi, dan integrasi platform, sehingga uji ide, perbaikan layanan, dan respons pasar lebih cepat. Dampaknya makin kuat bila organisasi punya orientasi pasar, kompetensi digital, dan pemasaran digital. Umumnya inovasi bekerja lewat keunggulan bersaing: diferensiasi, efisiensi, dan pengalaman pelanggan yang konsisten. Kesimpulan: Inovasi dapat mendorong market performance jika organisasi menyiapkan mesin eksekusi yang rapi, memadukan inovasi dengan transformasi digital, serta menempatkan agenda ESG sebagai bagian dari penciptaan nilai sesuai konteks industri. Pendekatan portofolio inovasi yang seimbang antara perbaikan bertahap dan terobosan juga lebih realistis agar organisasi tetap stabil sekaligus siap menangkap peluang pasar baru.
Copyrights © 2026