Keberlanjutan dalam arsitektur modern menjadi perhatian utama dalam mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Arsitektur tradisional Sunda memiliki nilai ekologi yang relevan, seperti yang diterapkan di Yayasan Bambu Indonesia, Kabupaten Bogor. Penelitian ini mengkaji bagaimana arsitektur tradisional Sunda berkontribusi terhadap keberlanjutan dengan pendekatan ekologi.Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan studi kasus pada bangunan di Yayasan Bambu Indonesia. Analisis dilakukan berdasarkan teori arsitektur ekologi dari Frick (2007), Widigdo (2008), dan Metallinaou (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan dicapai melalui beberapa prinsip: (1) pemeliharaan sumber daya alam dengan penempatan massa bangunan di pinggiran tapak, (2) pengelolaan tanah, air, dan udara dengan adaptasi terhadap kontur, sistem resapan air, dan ruang hijau, (3) penggunaan sistem bangunan hemat energi dengan atap berventilasi dan bukaan optimal, (4) pemanfaatan material lokal seperti bambu dan kayu, (5) pengolahan limbah secara terintegrasi, (6) peningkatan kualitas udara dengan vegetasi, serta (7) penerapan teknologi ramah lingkungan.
Copyrights © 2024