Budidaya tanaman obat di Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan seiring meningkatnya industri obat tradisional dan tren masyarakat terhadap gaya hidup alami. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) merupakan salah satu tanaman herbal unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta manfaat kesehatan karena kandungan kurkuminoid, minyak atsiri, dan senyawa bioaktif lainnya. Namun, pemilihan bibit temulawak berkualitas masih sering dilakukan berdasarkan pengalaman subjektif petani, sehingga berpotensi menghasilkan ketidaktepatan dalam budidaya. Penelitian ini bertujuan menentukan bibit temulawak terbaik dengan menerapkan metode Collaborative Filtering sebagai sistem rekomendasi berbasis preferensi pengguna. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan model pengembangan sistem Rapid Application Development (RAD). Data diperoleh melalui observasi, wawancara, studi pustaka, serta pengumpulan rating bibit dari petani di Desa Pulo Bandring, Kabupaten Asahan. Proses perhitungan rekomendasi dilakukan menggunakan Item-Based Collaborative Filtering yang menghasilkan skor prediksi untuk setiap alternatif bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Collaborative Filtering mampu memberikan rekomendasi bibit secara lebih objektif. Bibit dengan nilai rekomendasi tertinggi diperoleh oleh Bibit 1 (C1) dengan skor 4,349, sedangkan nilai terendah diperoleh oleh Bibit 4 (C4) dengan skor 1,533. Sistem rekomendasi yang dibangun dapat membantu petani memilih bibit temulawak terbaik secara terukur dan efektif, serta berpotensi meningkatkan hasil panen dan pendapatan.
Copyrights © 2025