Latar Belakang: Kejenuhan belajar dapat muncul akibat metode pembelajaran yang monoton, tuntutan akademik yang terlalu tinggi, kurangnya variasi aktivitas bermain-belajar, maupun lingkungan belajar yang kurang mendukung. Gejala kejenuhan pada anak usia dini dapat terlihat dari sikap mudah bosan, menolak mengikuti kegiatan, kurang antusias, hingga muncul perilaku negatif seperti rewel, melamun, atau tidak fokus. Jika kondisi ini dibiarkan, dapat menghambat proses perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk kejenuhan belajar pada anak usia dini di TKIT Al-Fatih Kragilan serta menggambarkan upaya guru dan orang tua dalam mengatasi kejenuhan tersebut.Metode:Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari satu guru kelas dan tiga orang tua murid.Hasil:Penelitian menunjukkan bahwa kejenuhan belajar anak ditandai dengan ekspresi murung, tidak fokus, sikap diam, menolak tugas, hingga perilaku pasif dalam proses pembelajaran. Faktor penyebab kejenuhan bersumber dari metode pembelajaran yang monoton, tekanan akademik dari orang tua, kondisi emosional anak, serta kurangnya aktivitas variatif di sekolah. Guru mengatasi kejenuhan dengan strategi seperti pembelajaran luar kelas, ice breaking, komunikasi personal, dan metode bermain. Sementara itu, orang tua cenderung menggunakan pendekatan fleksibel dan menyenangkan seperti menyisipkan lagu atau permainan saat anak belajar di rumah.Kesimpulan: Temuan ini menegaskan pentingnya sinergi antara guru dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, menyenangkan, dan bebas tekanan agar anak usia dini dapat tumbuh menjadi pembelajar yang tangguh dan bahagia.
Copyrights © 2025