Maraknya kekerasan di institusi pendidikan, yang diperparah oleh kasus fatal di sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat, menegaskan kebutuhan mendesak untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA). Sebagai respons, sebuah program pengabdian dirancang untuk membekali para guru di sekolah berasrama dengan kompetensi pencegahan kekerasan melalui pendekatan psikoedukasi dan spiritual. Kegiatan ini diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) bersama para akademisi untuk merancang intervensi, yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk pendampingan langsung kepada para guru. Program ini mendapat sambutan positif karena memberikan kerangka kerja baru yang memadukan wawasan psikologis dengan fondasi spiritual yang telah ada. Hasilnya menunjukkan bahwa pendampingan ini berhasil memvalidasi praktik-praktik intuitif yang selama ini telah dilakukan guru, sekaligus meningkatkan kesadaran mereka terhadap berbagai bentuk kekerasan. Guru juga mampu mengidentifikasi tantangan seperti pentingnya kolaborasi dengan orang tua. Secara keseluruhan, program ini sukses memberdayakan para pendidik dengan strategi konkret untuk membangun lingkungan sekolah yang aman. Para guru kini beralih dari pendekatan naluriah ke metode yang lebih terstruktur dan sadar dalam mencegah kekerasan, menjadi agen perubahan proaktif untuk mewujudkan SRA.
Copyrights © 2025