Layanan farmasi klinis telah berevolusi dari fokus tradisional pada dispensing menjadi layanan yang berorientasi pasien dan komprehensif, meliputi rekonsiliasi obat, tinjauan terapi, edukasi pasien, dan identifikasi masalah terkait obat (DRPs). Implementasinya mencakup berbagai lingkungan perawatan, termasuk rawat inap, bedah khusus, dan telekonsultasi. Bukti menunjukkan efektivitas signifikan dalam meningkatkan hasil klinis (seperti penurunan mortalitas dan kesalahan pengobatan), kepatuhan pasien, penghematan biaya kesehatan, serta kolaborasi interprofesional. Namun, tantangan seperti kurangnya dukungan manajemen, beban kerja tinggi, resistensi tenaga kesehatan, dan infrastruktur yang terbatas masih menghambat. Faktor pendorong mencakup sikap positif tenaga kesehatan dan penggunaan Key Performance Indicators (KPIs) terstandar. Kesenjangan penelitian masih ada dalam pengukuran hasil jangka panjang, otomatisasi data, dan evaluasi ekonomi. Rekomendasi praktis meliputi peningkatan pelatihan klinis, penambahan staf, dan otomatisasi sistem, sementara penelitian ke depan perlu fokus pada hasil jangka panjang, studi berskala besar, dan penelitian kualitatif multidisplin untuk mendukung keberlanjutan dan dampak optimal layanan farmasi klinis.
Copyrights © 2026