Era digital telah menciptakan lanskap komunikasi baru yang berdampak signifikan terhadap ragam bahasa Indonesia. Dinamika ini menimbulkan ketegangan antara pergeseran bahasa dan upaya pemertahanannya. Artikel ini menganalisis bentuk-bentuk pergeseran ragam bahasa di ruang digital serta mengidentifikasi faktor pemertahanan ragam baku. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis konten terhadap interaksi berbahasa di platform media sosial dan forum online selama enam bulan. Hasilnya menunjukkan pergeseran signifikan berupa pelonggaran kaidah tata bahasa, ejaan, dan pilihan kosakata baku. Ragam nonformal dan bahasa gaul mendominasi karena faktor kecepatan, gaya personal, dan algoritma media sosial. Namun, pemertahanan ragam baku tetap kuat dalam komunikasi resmi daring, seperti website institusi, e-learning, dan artikel berita online. Ini menunjukkan bahwa konteks dan kesadaran berbahasa adalah kunci pemertahanan. Disimpulkan bahwa era digital menciptakan dualisme: memicu pergeseran ragam di ranah personal sekaligus memperkuat fungsi ragam baku di ranah formal. Pemertahanan bahasa Indonesia bergantung pada penanaman kesadaran untuk menggunakan ragam yang tepat sesuai konteksnya, bukan pada penolakan terhadap perubahan
Copyrights © 2026