Pengelolaan limbah saat ini masih menjadi isu utama di berbagai belahan dunia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Bank Dunia, rata-rata limbah / sampah yang dihasilkan dalam tiap tahun sekitar 1,3 miliar ton sampah secara global. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sumber sampah terbesar berasal dari limbah rumah tangga. Tujuan dalam penelitian ini yaitu merancang sistem kontroling dan monitoring limbah rumah tangga seperti kol, sawi, dan kangkung (KoSaKa) dikombinasikan feses sapi dan molase yang dapat menghasilkan energi alternatif terbarukan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini Mixed-Method yang mengkombinasikan studi literature review dan eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah organik rumah tangga seperti kol, sawi, dan kangkung (KoSaKa), jika dikombinasikan dengan molase dan kotoran sapi, dapat menghasilkan biogas berupa gas metana (CH₄). Selain itu, penggunaan sistem Internet of Things (IoT) dengan menggunakan sensor MQ-4, DHT11, dan mikrokontroler NodeMCU ESP 12-E terbukti efektif dalam memantau parameter fermentasi secara real time, seperti suhu, kelembapan, dan konsentrasi gas metana dalam digester. Produksi gas metana mencapai puncaknya pada hari ke-14 dengan konsentrasi 173.514,12 ppm (sekitar 72,30%). Selain itu, rentang suhu optimal 34–37°C dan kelembapan sekitar 85% mendukung pertumbuhan mikroorganisme metanogenik yang menghasilkan gas metana secara efisien. Namun, produksi gas mulai menurun setelah hari ke-15 karena tidak adanya penambahan bahan baru. Kata kunci: Limbah Rumah Tangga, Gas Metana, Internet of Things
Copyrights © 2025