Tanah Andisol di Sumatera Utara berkembang pada berbagai ketinggian tempat dan bahan induk vulkanik, yang berpotensi menimbulkan variasi sifat fisik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh bahan induk vulkanik (formasi Qvbs dan Qvbj) dan ketinggian tempat terhadap sifat fisik tanah Andisol serta hubungan antar sifat fisik tersebut. Penelitian dilakukan pada 12 profil tanah yang mewakili dua formasi geologi dengan kisaran ketinggian ±40–1300 m dpl. Analisis sifat fisik tanah meliputi distribusi ukuran partikel, bobot isi, kekerasan tanah, kadar air tanah, dan kandungan air pada tekanan 15 bar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik tanah Andisol dipengaruhi oleh interaksi antara bahan induk dan ketinggian tempat. Tanah pada formasi Qvbs umumnya menunjukkan tingkat pelapukan lebih lanjut, bobot isi dan kekerasan tanah yang lebih rendah, serta kapasitas menahan air yang lebih tinggi dibandingkan Qvbj, meskipun masih mencerminkan pengaruh bahan induk vulkanik muda. Peningkatan ketinggian tempat berasosiasi dengan perbaikan kualitas fisik tanah melalui peningkatan bahan organik dan pembentukan struktur tanah yang lebih stabil. Analisis korelasi dan regresi menunjukkan bahwa bahan organik dan mineral amorf (alofan dan ferihidrit) berperan dominan dalam mengendalikan bobot isi, kekerasan tanah, serta kadar dan kapasitas menahan air, sedangkan peran fraksi liat relatif kecil. Pada dataran rendah dengan pengelolaan intensif, pemadatan tanah meningkatkan bobot isi dan kekerasan hingga melampaui ambang kritis bagi pertumbuhan akar. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan tanah konservatif dan pemeliharaan bahan organik untuk menjaga kualitas fisik dan keberlanjutan pemanfaatan tanah Andisol.
Copyrights © 2025