Pertumbuhan signifikan pada industri hewab peliharaan di Indonesia dipengaruhi oleh perubahan perilaku sosial yang menempatkan hewan peliharaan sebagai bagian dari keluarga, perilaku ini disebut dengan perilaku antropomorfisme. Kajian literatur ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi dari hasil-hasil penelitian terdahulu terkait mekanisme terbentuknya perilaku antropomorfisme dan bagaimana perilaku ini mempengaruhi perilaku konsumsi dari pemilik hewan peliharaan. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis sintetik naratif berdasarkan studi-studi terdahulu yang relevan terkait konsumsi hewan peliharaan dan perilaku antropomorfisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku antropomorfisme terbentuk melalui ikatan emosional yang kuat antara pemilik dan hewan peliharaan, yang kemudian memengaruhi persepsi identitas diri, hubungan sosial, dan alokasi pengeluaran untuk produk dan layanan premium. Lebih lanjut, peran media sosial sangat kuat dalam hal penyebaran penomena sosial ini melalui jaringan afektif digital yang kemudian membentuk norma-norma sosial baru terkait hubungan manusia-hewan dan cara memperlakukan hewan peliharaan. Hasil penelitian memberikan kontribusi praktis bagi pelaku usaha lokal di sektor industri hewan peliharaan untuk merancang strategi produk, layanan, dan pemasaran yang berfokus pada pengalaman emosional pemilik hewan peliharaan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan bisnis lokal dan membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut tentang dinamika konsumsi hewan peliharaan di Indonesia. Hasil kajian literatur ini memberikan rekomendasi bagi pelaku usaha pada industri hewan peliharaan untuk dapat membangun strategi inovasi melalui kolaborasi dengan komunitas lokal pecinta hewan peliharaan dan influencer lokal dengan memanfaatkan pengaruh mereka pada pemilik hewan peliharaan untuk membangun persepsi positif serta kepercayaan terhadap produk dan jasa yang mereka jual.
Copyrights © 2026