Transformasi digital telah mengubah secara signifikan cara organisasi kesehatan dalam merancang dan mengimplementasikan promosi perilaku hidup sehat. Pemanfaatan media digital, aplikasi kesehatan, serta teknologi berbasis data memungkinkan penyebaran pesan kesehatan secara lebih luas dan cepat. Namun demikian, efektivitas kampanye digital seringkali terhambat oleh resistensi budaya yang muncul ketika pesan kesehatan dianggap tidak selaras dengan nilai, norma, kebiasaan, dan identitas sosial masyarakat. Kajian literatur ini bertujuan untuk menganalisis peran digital cultural alignment sebagai strategi kunci dalam mengatasi resistensi budaya serta meningkatkan efektivitas promosi perilaku hidup sehat di era transformasi digital. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan PRISMA, yang mencakup analisis terhadap lebih dari 40 artikel ilmiah relevan yang diperoleh dari basis data internasional seperti Scopus, Web of Science, PubMed, dan Google Scholar. Hasil kajian menunjukkan bahwa resistensi budaya terutama bersumber dari ketidaksesuaian pesan kesehatan dengan kerangka budaya lokal, yang berdampak pada rendahnya tingkat penerimaan pesan, keterlibatan audiens (engagement), serta keberlanjutan perubahan perilaku sehat. Penerapan digital cultural alignment melalui penggunaan bahasa lokal, simbol budaya, figur panutan komunitas, personalisasi pesan, serta pemilihan platform digital yang sesuai dengan preferensi masyarakat terbukti mampu meningkatkan kredibilitas komunikasi kesehatan dan memperkuat efektivitas kampanye digital. Selain itu, organisasi kesehatan perlu mengembangkan kapabilitas digital dan kapabilitas budaya secara simultan agar strategi komunikasi berbasis teknologi dapat berjalan secara optimal. Temuan ini menegaskan bahwa penyelarasan budaya dalam komunikasi digital bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan pendekatan strategis yang esensial untuk mengurangi resistensi budaya dan mendorong perilaku hidup sehat yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026