Pembentukan karakter disiplin pada peserta didik sekolah dasar merupakan bagian penting dari tujuan pendidikan nasional yang menekankan keseimbangan antara aspek intelektual, moral, dan sosial. Disiplin tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kepatuhan terhadap aturan formal, tetapi sebagai kebiasaan bertindak yang tertanam secara internal, stabil, dan berkelanjutan dalam diri peserta didik. Artikel ini mengkaji relevansi konsep habit of action dari Charles Sanders Peirce dalam kerangka filsafat pragmatisme terhadap proses pembentukan karakter disiplin di sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi pustaka, dengan menelaah karya-karya utama Peirce yang berkaitan dengan teori makna, keyakinan, dan kebiasaan bertindak, serta literatur kontemporer tentang pendidikan karakter. Analisis dilakukan secara konseptual dan interpretatif untuk mengaitkan prinsip-prinsip pragmatisme dengan praktik pendidikan disiplin. Hasil kajian menunjukkan bahwa menurut Peirce, keyakinan dan nilai moral hanya bermakna sejauh diwujudkan dalam pola tindakan yang konsisten. Dalam konteks pendidikan, karakter disiplin tidak terbentuk melalui indoktrinasi atau kontrol eksternal semata, melainkan melalui pengalaman praktis, pengulangan tindakan, dan pemaknaan atas konsekuensi nyata dari perilaku disiplin maupun tidak disiplin. Temuan ini sejalan dengan karakteristik perkembangan peserta didik sekolah dasar yang belajar melalui pembiasaan, pengalaman langsung, dan keteladanan. Dengan pendekatan pragmatisme, pendidikan disiplin diarahkan pada pembentukan kesadaran internal melalui praktik nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Oleh karena itu, konsep habit of action relevan dijadikan landasan filosofis dalam merancang pendidikan karakter disiplin yang kontekstual, berkelanjutan, dan berorientasi pada perilaku nyata peserta didik.
Copyrights © 2026