Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fenomena Kebijakan Biaya Pendidikan di Indonesia: Pendekatan Paradigmatis Positivistik dan Interpretivistik dalam Analisis Program BOS dan KIP Sobirin, Mukhammad; Suharno, Suharno; Ridlo, Rosid; Harsono, Harsono; Suyatmini, Suyatmini
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5134

Abstract

Kebijakan biaya pendidikan di Indonesia merupakan instrumen strategis negara dalam menjamin akses dan pemerataan pendidikan, khususnya melalui Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Meskipun kedua program ini dirancang untuk mengurangi beban biaya pendidikan dan meningkatkan partisipasi sekolah, dalam praktiknya masih dijumpai berbagai dinamika implementasi yang kompleks dan kontekstual. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis fenomena kebijakan biaya pendidikan di Indonesia dengan menggunakan dua pendekatan paradigmatis, yaitu positivistik dan interpretivistik. Pendekatan positivistik digunakan untuk mengkaji efektivitas kebijakan BOS dan KIP berdasarkan indikator kuantitatif seperti tingkat partisipasi pendidikan, angka putus sekolah, dan ketercapaian sasaran penerima bantuan. Sementara itu, pendekatan interpretivistik difokuskan pada pemahaman makna kebijakan dari perspektif aktor pendidikan, meliputi kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua, melalui analisis pengalaman, persepsi, serta praktik pengelolaan dana di tingkat satuan pendidikan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dan analisis dokumen kebijakan yang diperkaya dengan temuan-temuan empiris dari berbagai hasil penelitian sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara positivistik, BOS dan KIP berkontribusi signifikan dalam menekan biaya pendidikan dan meningkatkan akses layanan pendidikan. Namun, dari sudut pandang interpretivistik, ditemukan adanya persoalan administratif, ketimpangan pemahaman kebijakan, serta praktik implementasi yang belum sepenuhnya mencerminkan keadilan dan kebutuhan riil peserta didik. Oleh karena itu, integrasi kedua pendekatan paradigmatis menjadi penting untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif dan berkeadilan dalam perumusan dan evaluasi kebijakan biaya pendidikan di Indonesia.
Dekonstruksi Metodologi Penelitian: Studi Komparasi Paradigma Kritis Dan Post-Positivistik Dalam Mengevaluasi Inovasi Kurikulum Digital Sobirin, Mukhammad; Suharno, Suharno; Ridlo, Rosid; Harsono, Harsono; Sutama, Sutama
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5250

Abstract

Perkembangan kurikulum digital sebagai respons atas transformasi teknologi pendidikan menuntut pendekatan evaluasi yang tidak hanya bersifat teknis-instrumental, tetapi juga kritis dan reflektif terhadap relasi kuasa, ideologi, serta dampak sosial yang menyertainya. Artikel ini bertujuan untuk mendekonstruksi metodologi penelitian pendidikan melalui studi komparasi antara paradigma kritis dan post-positivistik dalam mengevaluasi inovasi kurikulum digital. Pendekatan post-positivistik dipahami sebagai paradigma yang menekankan objektivitas relatif, pengujian hipotesis, dan generalisasi temuan berbasis data empiris, sementara paradigma kritis berfokus pada emansipasi, kesadaran reflektif, serta pembongkaran struktur dominasi dalam praktik pendidikan digital. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur sistematis terhadap artikel jurnal bereputasi, dokumen kebijakan pendidikan, dan laporan evaluasi kurikulum digital dalam rentang sepuluh tahun terakhir, yang kemudian dianalisis secara komparatif dan interpretatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan post-positivistik unggul dalam mengukur efektivitas, efisiensi, dan dampak kognitif kurikulum digital, namun cenderung mengabaikan dimensi ketimpangan akses, hegemoni teknologi, dan marginalisasi kelompok tertentu. Sebaliknya, paradigma kritis mampu mengungkap dimensi ideologis dan politis dari inovasi kurikulum digital, tetapi sering dipandang kurang kuat dalam aspek replikasi dan validitas empiris. Artikel ini merekomendasikan model metodologi hibrida yang mengintegrasikan kekuatan kedua paradigma untuk menghasilkan evaluasi kurikulum digital yang lebih komprehensif, adil, dan transformatif. Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti, pengembang kurikulum, dan pembuat kebijakan dalam merancang evaluasi inovasi pendidikan berbasis digital yang berorientasi pada mutu sekaligus keadilan sosial.
Relevansi Konsep "Habit Of Action" Charles Sanders Peirce Dalam Pembentukan Karakter Disiplin Di Sekolah Dasar: Sebuah Pendekatan Pragmatisme Sobirin, Mukhammad; Suharno, Suharno; Ridlo, Rosid; Fauziah, Endang
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5251

Abstract

Pembentukan karakter disiplin pada peserta didik sekolah dasar merupakan bagian penting dari tujuan pendidikan nasional yang menekankan keseimbangan antara aspek intelektual, moral, dan sosial. Disiplin tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kepatuhan terhadap aturan formal, tetapi sebagai kebiasaan bertindak yang tertanam secara internal, stabil, dan berkelanjutan dalam diri peserta didik. Artikel ini mengkaji relevansi konsep habit of action dari Charles Sanders Peirce dalam kerangka filsafat pragmatisme terhadap proses pembentukan karakter disiplin di sekolah dasar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode studi pustaka, dengan menelaah karya-karya utama Peirce yang berkaitan dengan teori makna, keyakinan, dan kebiasaan bertindak, serta literatur kontemporer tentang pendidikan karakter. Analisis dilakukan secara konseptual dan interpretatif untuk mengaitkan prinsip-prinsip pragmatisme dengan praktik pendidikan disiplin. Hasil kajian menunjukkan bahwa menurut Peirce, keyakinan dan nilai moral hanya bermakna sejauh diwujudkan dalam pola tindakan yang konsisten. Dalam konteks pendidikan, karakter disiplin tidak terbentuk melalui indoktrinasi atau kontrol eksternal semata, melainkan melalui pengalaman praktis, pengulangan tindakan, dan pemaknaan atas konsekuensi nyata dari perilaku disiplin maupun tidak disiplin. Temuan ini sejalan dengan karakteristik perkembangan peserta didik sekolah dasar yang belajar melalui pembiasaan, pengalaman langsung, dan keteladanan. Dengan pendekatan pragmatisme, pendidikan disiplin diarahkan pada pembentukan kesadaran internal melalui praktik nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Oleh karena itu, konsep habit of action relevan dijadikan landasan filosofis dalam merancang pendidikan karakter disiplin yang kontekstual, berkelanjutan, dan berorientasi pada perilaku nyata peserta didik.
Analisis Swot Manajerial Sekolah Sebagai Dasar Perumusan Strategi Peningkatan Kualitas Instruksional Sobirin, Mukhammad; Suharno, Suharno; Ridlo, Rosid; Anif, Sofyan
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5252

Abstract

Kualitas instruksional merupakan inti efektivitas pendidikan, namun sering terhambat oleh tata kelola manajerial yang masih bersifat administratif dan kurang strategis. Penelitian ini bertujuan memetakan kondisi manajerial sekolah melalui analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) guna merumuskan strategi penguatan kualitas pembelajaran di kelas. Fokus kajian diarahkan pada optimalisasi fungsi manajerial, meliputi kepemimpinan instruksional, supervisi akademik, manajemen sumber daya manusia, dan pengelolaan sarana pembelajaran dalam mendukung performa pedagogis guru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif di Sekolah X. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan komite sekolah, serta studi dokumentasi terhadap rencana strategis sekolah. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi faktor internal melalui matriks IFAS dan faktor eksternal melalui EFAS, yang selanjutnya diintegrasikan ke dalam Matriks SWOT untuk merumuskan alternatif strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama terletak pada visi kepemimpinan yang progresif, namun masih dihadapkan pada kelemahan berupa inkonsistensi supervisi akademik klinis dan tingginya beban administrasi guru. Peluang pemanfaatan teknologi pendidikan berbasis digital belum optimal karena berbenturan dengan ancaman perubahan kurikulum yang cepat dan disparitas kompetensi teknologi antar guru. Berdasarkan analisis SWOT, dirumuskan empat pilar strategi: digitalisasi supervisi akademik (SO), penguatan komunitas belajar internal (ST), restrukturisasi beban kerja guru (WO), dan pelatihan manajerial berbasis mitigasi risiko instruksional (WT). Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi berbasis SWOT manajerial mampu memberi arah yang lebih presisi bagi peningkatan kualitas instruksional, serta mendorong pergeseran paradigma dari manajemen administratif menuju kepemimpinan instruksional berbasis data.
TANTANGAN PENERAPAN KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH SWASTA Sobirin, Mukhammad; Suharno; Ridlo, Rosid
Jurnal Kependidikan Vol. 10 No. 1 (2025): Jurnal Kependidikan
Publisher : FKIP Universitas Samawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan pendidikan nasional yang bertujuan memberikan fleksibilitas pembelajaran serta mendorong pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik. Namun, penerapannya di sekolah swasta menghadapi berbagai tantangan yang perlu dikaji secara mendalam. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tantangan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah swasta, dengan fokus pada aspek kesiapan sumber daya, kompetensi guru, dukungan manajemen sekolah, serta pelaksanaan pembelajaran berbasis projek dan Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menganalisis dokumen kebijakan, buku teks, dan artikel ilmiah yang relevan. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan sumber, klasifikasi data, analisis tematik, dan sintesis hasil kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pendanaan, minimnya pelatihan guru, perbedaan kebijakan internal yayasan, serta rendahnya pemahaman terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi menjadi tantangan utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah swasta. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah swasta memerlukan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas guru, serta sinergi antara sekolah, yayasan, dan pemerintah.