Penelitian ini mengkaji praktik budaya pangan dalam upakara masyarakat etnis Bali di wilayah diaspora Lombok Barat, dengan fokus pada fungsi indeksikalitas jaja upakara sebagai penanda identitas budaya. Etnis Bali Lombok di Lombok Barat (EB-LB) merupakan komunitas imigran yang telah lama bermukim dan membangun interaksi multikultural dengan etnis Sasak sebagai penduduk lokal. Dalam proses adaptasi dan akulturasi budaya, masyarakat EB-LB tetap mempertahankan nilai-nilai leluhur melalui praktik upacara keagamaan, salah satunya penggunaan jaja upakara di banten atau sesajen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan fenomenologi, serta menerapkan teori indeksikalitas dan rekonstruksi budaya untuk menelaah simbolisme dan transformasi makna jaja upakara dalam praktik ritual kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaja upakara tidak hanya berfungsi sebagai ritual pangan, tetapi juga sebagai sistem tanda budaya yang merepresentasikan identitas, nilai sosial, serta spiritualitas komunitas EB-LB. Proses rekonstruksi terhadap bentuk dan makna jaja upakara mencerminkan dinamika pewarisan budaya dalam konteks lingkungan multikultural, sekaligus menjadi strategi eksistensial dalam mempertahankan identitas etnis di perantauan.
Copyrights © 2025