Introduction: Spinal cord injury (SCI) adalah cedera pada medula spinalis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk hilangnya fungsi motorik dan sensorik, serta gangguan pada organ di sekitar area cedera. SCI yang terjadi setelah berbagai tindakan medis memiliki risiko menurunnya aktivitas fungsional. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui pengaruh fisioterapi multimodal terhadap nyeri dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan meningioma dan posterior stabilization fusion pada VTH 6-11 akibat spinal cord injury.Case Presentation: Penelitian ini mengidentifikasi pasien berjenis kelamin perempuan berusia 22 tahun dengan diagnosa medis spinal cord injury non traumatik akibat tumor, pasien sudah dilakukan tindakan meningioma dan juga posterior stabilization fusion pada vertebra thoracal 6 sampai 11. Neurological level of injury pasien berada pada T12Management and Outcome: Pasien menjalani intervensi fisioterapi multimodal sebanyak tiga kali, meliputi electrical stimulation, PNF joint approximation, mobilisasi pasif, penguatan tungkai bawah, serta penataan posisi. Penilaian nyeri dilakukan menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS), evaluasi tingkat neurologis dengan ASIA Scale, serta penilaian aktivitas fungsional dengan Barthel Index. Terdapat penurunan dari derajat nyeri dengan NPRS, dimana nyeri tekan area ankle 5/10 ke 4/10 dan nyeri gerak pasif dari 5/10 ke 4/10. Terdapat peningkatan motor scoring dengan ASIA Scale. Tidak ada perubahan nilai aktivitas fungsional dari sebelum dan sesudah 3 kali terapi.Discussion: Pasien dengan SCI incomplete, seperti pada kasus dengan level T12 ini, umumnya memiliki prognosis fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan SCI complete, meskipun hasil akhir sangat bergantung pada penanganan dini yang tepat. Imobilisasi yang berkepanjangan meningkatkan risiko komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, luka tekan, dan penurunan propriosepsi, sehingga mobilisasi dini, penataan posisi yang baik, serta latihan penguatan otot menjadi sangat penting. Kombinasi intervensi seperti electrical stimulation dengan fisioterapi standar dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan mendukung pemulihan neuromuskular. Namun, perbaikan fungsi yang bermakna umumnya memerlukan rehabilitasi intensif jangka panjang, sekitar 3–6 bulan, sehingga pendekatan multidisipliner yang tepat waktu sangat penting untuk memaksimalkan pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.Conclusion: Setelah menjalani tiga sesi fisioterapi multimodal, pasien menunjukkan perbaikan fungsi motorik dan penurunan tingkat nyeri. Namun, belum didapatkan peningkatan pada aktivitas fungsional.
Copyrights © 2025