Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN FISIOTERAPI TERHADAP REHABILITASI JANTUNG PADA KASUS POST PPCI ET CAUSA CAD 1 VD : CASE REPORT furqony, Ifrah Yaumil; Supriadi, Arin; Andi Susilo, Ridwan
JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI Vol. 4 No. 2 (2025): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/fisioterapi.v4i2.8410

Abstract

Pendahuluan: Coronary Artery Disease (CAD) merupakan salah satu penyakit paling umum yang terjadi pada sistem kardiovaskuler. CAD adalah gangguan fungsi jantung yang disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah jantung. Hal ini mengakibatkan pembuluh darah arteri mengalami penyempitan dan mengeras, sehingga jantung kekurangan pasokan oksigen. Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan pada banyak aspek fisik, psikologis, dan sosial, sehingga menyebabkan penurunan fungsi jantung dan kesehatan. Presentasi Kasus: Seorang pasien perempuan dengan usai 50 tahun mengalami serangan jantung pada tanggal 30 Maret 2024, setelah dilakukan tindakan PPCI, di diagnosa bahwa pasien mengalami CAD 1 VD. Pasien datang ke fisioterapi untuk rehabilitasi fase 2. Manajemen dan Hasil: Program rehabilitasi fase 2 diberikan kepada pasien dengan tujuan untuk meningkatkan kemandirian dan meningkatkan aktivitas fungsional pasien. Fisioterapis memberikan latihan aerobik berdasarkan Panduan Rehabilitasi Kardiovaskuler (PERKI). Latihan diawali dengan pemanasan dan senam selama 10 menit, melatih kapasitas aerobik sehingga meningkatkan daya tahan aerobik dengan cara meningkatkan fungsi kerja jantung. Latihan ini juga melibatkan aktivitas otot-otot besar yang berdampak pada peningkatan pembakaran kalori untuk memelihara berat badan yang sehat, dan meningkatkan transpor oksigen dalam jumlah besar. Test 6 minuts walking test digunakan untuk menentukan dosis dan latihan berikutnya. Tes telemetri dilakukan setelah menjalani 6 minuts walking test, telemetri dibagi menjadi 3 tahapan latihan, tes telemetri pertama ditempuh dengan jarak 1200 m dan tes telemetri kedua ditempuh dengan jarak 1800 m dan pendinginan 10 menit. Simpulan: Kesimpulan dari hasil terapi yang dilakukan adalah pasien setelah menjalani rehabilitasi jantung fase 1 dan fase 2 di Unit Rehabilitasi Jantung Poli Pelayanan Jantung Terpadu RSUD Dr Moewardi Surakarta didapatkan hasil, ada peningkatan baik dari segi kapasitas aerobik dan Rate of Perceived Exertion (RPE) setelah melakukan program yang telah diberikan dan saran untuk pasien agar konsisten terhadap pola hidup yang sehat dan olahraga yang teratur.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Gangguan Aktifitas Fungsional Akibat Kelemahan Otot dan Penurunan Sensibilitas pada Ekstremitas Bawah et Causa Spinal Cord Injury setelah Tindakan Meningioma dan Posterior Stabilization Fusion VTH 6-11 (on Treatment) Saputra, Hendi; Supriadi, Arin; Sukatwo, S; Komalasari, Dwi Rosella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Spinal cord injury (SCI) adalah cedera pada medula spinalis yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk hilangnya fungsi motorik dan sensorik, serta gangguan pada organ di sekitar area cedera. SCI yang terjadi setelah berbagai tindakan medis memiliki risiko menurunnya aktivitas fungsional. Tujuan laporan kasus ini untuk mengetahui pengaruh fisioterapi multimodal terhadap nyeri dan aktivitas fungsional pada pasien pasca tindakan meningioma dan posterior stabilization fusion pada VTH 6-11 akibat spinal cord injury.Case Presentation: Penelitian ini mengidentifikasi pasien berjenis kelamin perempuan berusia 22 tahun dengan diagnosa medis spinal cord injury non traumatik akibat tumor, pasien sudah dilakukan tindakan meningioma dan juga posterior stabilization fusion pada vertebra thoracal 6 sampai 11. Neurological level of injury pasien berada pada T12Management and Outcome: Pasien menjalani intervensi fisioterapi multimodal sebanyak tiga kali, meliputi electrical stimulation, PNF joint approximation, mobilisasi pasif, penguatan tungkai bawah, serta penataan posisi. Penilaian nyeri dilakukan menggunakan Numerical Pain Rating Scale (NPRS), evaluasi tingkat neurologis dengan ASIA Scale, serta penilaian aktivitas fungsional dengan Barthel Index. Terdapat penurunan dari derajat nyeri dengan NPRS, dimana nyeri tekan area ankle 5/10 ke 4/10 dan nyeri gerak pasif dari 5/10 ke 4/10. Terdapat peningkatan motor scoring dengan ASIA Scale. Tidak ada perubahan nilai aktivitas fungsional dari sebelum dan sesudah 3 kali terapi.Discussion: Pasien dengan SCI incomplete, seperti pada kasus dengan level T12 ini, umumnya memiliki prognosis fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan SCI complete, meskipun hasil akhir sangat bergantung pada penanganan dini yang tepat. Imobilisasi yang berkepanjangan meningkatkan risiko komplikasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, luka tekan, dan penurunan propriosepsi, sehingga mobilisasi dini, penataan posisi yang baik, serta latihan penguatan otot menjadi sangat penting. Kombinasi intervensi seperti electrical stimulation dengan fisioterapi standar dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan mendukung pemulihan neuromuskular. Namun, perbaikan fungsi yang bermakna umumnya memerlukan rehabilitasi intensif jangka panjang, sekitar 3–6 bulan, sehingga pendekatan multidisipliner yang tepat waktu sangat penting untuk memaksimalkan pemulihan dan mencegah komplikasi jangka panjang.Conclusion: Setelah menjalani tiga sesi fisioterapi multimodal, pasien menunjukkan perbaikan fungsi motorik dan penurunan tingkat nyeri. Namun, belum didapatkan peningkatan pada aktivitas fungsional.