Pala (Myristica fragrans Houtt) adalah salah satu rempah-rempah asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Maluku. Di Maluku Utara, budidaya pala telah diwariskan secara turun-temurun sebagai mata pencaharian tradisional. Namun, di Kabupaten Halmahera Tengah, meskipun terjadi peningkatan luas areal tanam, produksi dan jumlah petani mengalami penurunan. Kecenderungan ini menimbulkan kekhawatiran akan usaha pertanian pala di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan perkebunan pala di Kabupaten Halmahera Tengah dengan menggunakan metode Rap-Nutmeg melalui Multidimensional Scaling (MDS). Analisis MDS mengevaluasi keberlanjutan dalam lima dimensi: ekonomi, sosial, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan. Penelitian ini dilakukan di empat kecamatan di Kabupaten Halmahera Tengah yaitu, Patani Timur, Patani Utara, Weda Utara, dan Weda. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Badan Pusat Statistik, dan literatur yang relevan, sedangkan data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan petani. Sebanyak 100 petani pala dipilih secara purposif sebagai sampel. Analisis keberlanjutan menunjukkan hasil yang beragam di seluruh dimensi. Dimensi lingkungan (75,18) dan dimensi sosial (75,12) dikategorikan sangat berkelanjutan. Dimensi teknologi (74,74) tergolong cukup berkelanjutan. Namun, dimensi ekonomi (38,76) dikategorikan kurang berkelanjutan, dan dimensi kelembagaan (11,36) dianggap tidak berkelanjutan. Indeks keberlanjutan yang bervariasi di seluruh dimensi menyoroti perlunya intervensi dan dukungan pemerintah, terutama untuk meningkatkan dimensi yang kurang berkelanjutan dan tidak berkelanjutan, serta untuk meningkatkan atribut-atribut sensitif di setiap dimensi.
Copyrights © 2025