Ketahanan pangan menjadi tantangan penting bagi Indonesia, terutama karena tingginya ketergantungan pada impor bahan makanan utama seperti beras, gandum, kedelai, gula, dan daging sapi. Kenaikan harga global yang dipicu oleh situasi geopolitik, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina, semakin berpengaruh pada stabilitas dalam negeri dengan meningkatkan biaya yang mengganggu rantai pasokan. Data dari periode 2020 hingga 2023 menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam impor pangan strategis, sedangkan ekspor cenderung stagnan. Hal ini mencerminkan adanya keterbatasan dalam kapasitas produksi nasional. Studi ini menyoroti peran penting diplomasi ekonomi sebagai alat strategis untuk mengatasi kerentanan tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui negosiasi perdagangan, peningkatan cadangan pangan, dan kerja sama bilateral dengan negara-negara pemasok. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menekankan pada ekspor dan keterlibatan multilateral, studi ini menjembatani kesenjangan dengan menganalisis hubungan langsung antara diplomasi ekonomi dan ketahanan pangan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kerangka konseptual yang mengaitkan kebijakan ekonomi internasional dengan strategi pangan nasional. Hasil tersebut menekankan betapa pentingnya mengintegrasikan diplomasi ekonomi dalam rencana jangka panjang untuk memajukan kedaulatan pangan di Indonesia.
Copyrights © 2025